Cari artikel anda disini

04 September 2008

ebony comodity Indonesia

Comodity Sulawesi Tengah (ebony)

Pendahuluan

Eboni (Diospyros celebica Bakh) merupakan salah satu jenis kayu dari famili Ebenaceae dan merupakan jenis kayu mewah. Kayu Eboni dikenal juga sebagai kayu hitam karena memiliki teras kayu berwarna hitam dengan garis-garis merah coklat. Di samping Diospyros celebica Bakh, ada beberapa jenis Diospyros (D) yang dapat dikelompokkan sebagai kayu Eboni, yaitu: D.ebeum Koen, D. ferea Bakh, D. Tolin Bakh, D. macrohylla Bl, D. pilosanthera Blanco dan D. rumphii Bakh. Tetapi banyak orang menganggap bahwa Diospyros celebica Bakh merupakan jenis Eboni yang asli. Dari ketujuh jenis Eboni yang tersebar di seluruh Indonesia, jenis Diospyros celebica-lah yang memiliki penyebaran paling terbatas dibanding jenis lainnya. Eboni (Diospyros celebica Bakh) merupakan salah satu jenis flora endemik yang ada di pulau Sulawesi, dengan daerah penyebaran di Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan. Saat ini diperkirakan penyebaran habitat Eboni paling selatan adalah di wilayah Maros (Sulawesi Selatan), sedangkan bagian utara di daerah Tomini dan Toli-Toli (Sulawesi Tengah). Sulawesi Tengah merupakan daerah utama penyebaran alami kayu Eboni, yangmeliputi wilayah Poso, Parigi, Donggala, Palu, Luwuk, Tomini dan Toli-Toli.Jenis kayu Eboni biasanya tumbuh di punggung-punggung bukit sampaiketinggian 700 meter di atas permukaan laut, dengan jenis tanah seperti: tanah kapur, batu-batuan dangkal maupun tanah latosol.

Sejak dahulu, kayu Eboni banyak digemari orang karena memiliki tekstur kayu yang halus dan merata, dengan teras kayunya yang indah dan sangat awet. Kayu Eboni biasanya digunakan sebagai bahan meubel, patung, ukiran, hiasan dinding, alat musik, kipas dan kayu lapis mewah. Sementaraorang-orang Jepang beranggapan, apabila perabotan rumah tangganya berasal dari kayu Eboni dapat meningkatkan status sosialnya (Kuhon dkk, 1987). Tidak kurang dari 95 persen (%) kayu Eboni yang diperdagangkan adalah berbentuk gergajian, dan sisanya sekitar 5% diperdagangkan dalam bentuk barang jadi yang diproduksi oleh para perajin lokal maupun perajin yang ada di pulau Jawa dan Bali. Kayu Eboni dalam bentuk gergajian, kebanyakan diekspor dengan negara tujuan utama adalah Jepang, kemudian Amerika Serikat dan beberapa negara di benua Eropa (Prosea,1995).

Kayu Eboni sudah lama terkenal di dunia perdagangan dengan nama Ebben, Wale, Ebennum, Macassar Eboni dan juga kayu hitam. Meningkatnya permintaan terhadap jenis kayu Eboni mengakibatkan peningkatan terhadap harga kayu ini di pasar luar negeri dari tahun ke tahun. Harga kayu Eboni meningkat dari sekitar US $ 20 per ton pada tahun 1967 menjadi US $ 2.000 per m³ pada tahun 1987 (Kuhon dan Pattiradjawane, 1987), sedangkan harga untuk pasar dalam negeri diperkirakan mencapai harga 1 – 1,5 juta rupiah per m³. Harga jual dari produk gergajian kayu Eboni di pasar luar negeri hingga saat ini bahkan telah mencapai US $ 6.000 per m³ (Deperindag, 2000). Tingginya harga jual dan besarnya kebutuhan akan jenis kayu Eboni ini, membuat maraknya kegiatan penebangan di kawasan hutan alam. Setelah menjadi komoditas andalan pada perusahan HPH di propinsi Sulawesi Tengah sampai awal tahun 1990-an, kayu Eboni dalam beberapa tahun belakangan telah menjadi incaran aktivitas illegal logging. Sejak pertengahan tahun 1990- an, aktivitas illegal logging telah diidentifikasi menjadi semakin marak terjadi di kawasan hutan alam dan Eboni merupakan salah satu jenis kayu terpopuler yang menjadi incaran para penebang di Sulawesi Tengah dan sekitarnya. Dengan semakin meningkatnya aktivitas illegal logging serta pengeksploitasian hutan yang tidak terencana, telah mengakibatkan semakin menipisnya persediaan jenis kayu Eboni di hutan alam. Hal ini didukung oleh beberapa penelitian yang memperlihatkan bahwa di beberapa hutan alam kayu Eboni sudah sulit ditemukan. Keadaan seperti ini juga diperburuk dengan kenyataan bahwa kayu Eboni memiliki pertumbuhan yang sangat lambat. Padahal sejak awal tahun 1990-an, sesuai dengan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah Nomor : 188.44/1067/ RO/BKLH/1990 tanggal 24 Pebruari 1990, pemerintah telah melakukan suatu usaha untuk mencegah kepemunahan jenis Eboni dengan dikeluarkannya sebuah kebijakan berupa surat keputusan Dirjen Pengusahaan Hutan tentang pelarangan sementara penebangan kayu Eboni dan ekspor dalam bentuk log(kayu bulat). Kenyataannya, pelarangan penebangan terhadap kayu Eboni tidak efektif untuk mengatasi perdagangan ilegal dan penyelundupan ke luar negeri, karena kegiatan tersebut masih berlangsung sampai saat ini. Dari informasi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kegiatan pengeksploitasian kayu Eboni masih tetap berlangsung sedangkan usaha untuk pembudidayaan kayu Eboni dapat dikatakan sama sekali belum dilakukan. Oleh karena itu, melakukan sebuah studi komprehensif tentang tersediaan tegakan Eboni di hutan alam dan situasi perdagangan jenis Eboni menjadi sebuah kebutuhan untuk menghasilkan angka-angka yang cukup dapat dipercaya terhadap status dan situasi perdagangan Eboni sebagai bagian dari pelestarian jenis Eboni di Indonesia.

Beberapa jenisnya, sebagai contoh:
  1. D. australis, dari pantai timur Australia.
  2. D. bantamensis, menyebar di Sumatra, Jawa dan Borneo.
  3. D. blancoi, sering disebut dengan nama yang tidak sah: D. discolor, bisbul atau mabolo. Asal dari Filipina.
  4. D. borneensis. Tiongkok, Thailand, Semenanjung Malaya, Sumatra dan Borneo.
  5. D. buxifolia; ki merak, rangkemi atau meribu. Dari India, Indochina, Thailand, Kepulauan Nusantara sampai dengan Papua.
  6. D. canaliculata (sinonim: D. cauliflora, D. xanthochlamys). India, Burma, Indochina, Thailand dan Kepulauan Nusantara. Buah digunakan sebagai ubar (pewarna) jala dan pakaian.
  7. D. celebica, kayu-hitam Sulawesi. Endemik Sulawesi, dan terancam kepunahan.
  8. D. confertiflora, nyangit toan. Thailand, Semenanjung Malaya, Sumatra, Bangka dan Borneo. Di hutan gambut, hutan kerangas dan hutan pegunungan bawah sampai ketinggian 1250 m dpl.
  9. D. digyna (sinonim: D. nigra, D. ebenaster). Sawo hitam, Black Persimmon, Black Sapote, zapote negro. Asal diperkirakan dari Meksiko dan Guatemala, dan pada abad pertengahan dibawa penjajah Spanyol ke Filipina, yang kemudian menyebar ke Sulawesi dan MalukuBuahnya memiliki kulit hijau, yang menjadi hitam jika telah masak. Daging buahnya kecoklatan dan manis, dimakan segar atau dijadikan minuman dan kue-kue.
  10. D. durionoides, kayu-arang durian. Endemik Borneo.
  11. D. ebenum (sinonim: D. hebecarpa). Eboni ‘asli’, eboni India, kayu Asia tropis yang banyak digunakan untuk mebel.
  12. D. fasciculosa, Australia.
  13. D. insularis, kayu-hitam Papua.
  14. D. kaki, kesemek. Spesies ini paling banyak dibudidayakan dan terkenal akan buahnya.
  15. D. kurzii, Marblewood, Andaman Marble. Menyebar mulai dari Burma, Thailand, Andaman dan Nikobar, Semenanjung Malaya, Borneo, Filipina, dan Maluku. Kayunya yang keputihan digunakan dalam konstruksi ringan dan perkakas rumah.
  16. D. lanceifolia, kayu-hitam. Asia Tenggara, di hutan dataran rendah dan perbukitan. Buah digunakan sebagai racun ikan.
  17. D. lotus, Date-plum. Berasal dari Asia barat daya dan Eropa tenggara. Memiliki rasa campuran antara buah plum dan kurma, buah inilah yang dikenal oleh bangsa Yunani purba sebagai ‘buah para dewa’.
  18. D. mabacea. Eboni berbuah merah, dari bagian utara New South Wales - terancam punah.
  19. D. macrocalyx (sin. D. loureiroana, Royena macrocalyx).
  20. D. macrophylla Bl.. Ajan kelicung, areng-areng, atau siamang, kayu hitam Nusa Tenggara, buahnya bisa dimakan.
  21. D. major, pantai timur Australia.
  22. D. maritima, tulang ayam. Perdu di hutan pantai di Jawa.
  23. D. melanoxylon, Eboni Koromandel, eboni India timur, tendu. Daun tumbuhan ini digunakan di India untuk bahan rokok.
  24. D. mespiliformis. Jackalberry, Jakkalbessie, African Ebony.
  25. D. molissima. Endemik di Indonesia dan terancam punah.
  26. D. pilosanthera, kayu-hitam. Mulai dari India ke Asia Tenggara hingga Maluku. Varietas elmeri endemik di Borneo.
  27. D. pentamera Myrtle Ebony atau Grey Persimmon - pantai timur Australia.
  28. D. sandwicensis. Lama, endemik di Hawaii.
  29. D. siamang (sin. D. elliptifolia), kayu-hitam. Dari hutan-hutan gambut di dataran rendah Semenanjung Malaya, Sumatra, Riau dan Borneo.
  30. D. sumatrana, kayu-hitam. India, Burma, Thailand, Semenanjung Malaya, Sumatra dan Borneo.
  31. D. texana. Texas Persimmon, kesemek Texas. Berupa semak atau pohon kecil yang berasal dari Texas dan Oklahoma. Tumbuh di pegunungan yang kering. Buahnya menjadi makanan burung dan digunakan juga sebagai pewarna oleh bangsa Indian.
  32. D. trichophylla (sin. D. pruriens).
  33. D. villosa (sin. Royena villosa).
  34. D. virginiana. American Persimmon, kesemek Amerika. Berasal dari Amerika utara.

Beberapa jenis Diospyros dari Asia Tenggara telah dimasukkan ke dalam daftar merah IUCN (IUCN Red List of Endangered Flora and Fauna) karena terancam kepunahan.

Tidak ada komentar: